apa nama sekolah anda

Kamis, 21 April 2011

SOSIOLINGUISTIK RAGAM BAHASA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat, berupa lambang bunyi atau suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa sebagai alat komunikasi terdiri dari dua bagian, yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Bentuk bahasa adalah bagian bahasa yang dapat diserap oleh panca indra baik dengan mendengar atau membaca, sedangkan makna adalah isi yang terkandung dalam entuk-bentuk yang dapat mennetukan reaksi tetenu. Reaksi tersebut timbul karena kita mendengar dan membaca sebuah wacana ( Keraf, 1984:16).
Sebagai alat komunikasi setiap anggota masyarakat, bahasa mempunyai gaya pengucapan yang berbeda. Baik antara satu daerah dengan daerah lainnya, inilah yang disebut suatu proses berbahasa. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan untuk itu kami mengangkat materi ini agar mahasiswa dapat mengetahui apa itu ragam bahasa.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalahnya antara lain:
1.2.1                  Apa yang dimaksud dengan bahasa?
1.2.2                  Apa perbedaan antara bahasa dan dialek?
1.2.3                  Apa yang dimaksud dengan dialek sosial?
1.2.4                  Apa-apa saja ragam bahasa?


1.3  Tujuan
1.3.1                  Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bahasa.
1.3.2                  Untuk mengetahui apa perbedaan bahasa dan dialek.
1.3.3                  Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan dialek sosial.
1.3.4                  Untuk mengetahui apa-apa saja yang tergolong dalam ragam bahasa.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  BAHASA
Pandangan muncul dari linguistik dengan tokoh Bloomfield bahwa Bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi. Orang berbahasa mengeluarkan bunyi-bunyi yang berurutan pembentuk suatu struktur tertentu. Bunyi-bunyi itu merupakan lambang, yaitu yang melambangkan makna yang bersembunyi dibalik bunyi itu. Pengertian sederetan bunyi itu melambangkan suatu makna bergantug pada kesepakatan atau konvensi anggota masyarakat pemakainya.
SL memandang bahasa sebagai tingkah laku sosial (sosial behavior) yang dipakai dalam berkomunikasi. Karena masyarakat itu terdiri dari individu-individu, masyarakat secara keseluruhan dan individu saling mempengaruhi dan saling bergantung. SL memang menitikberatkan perhatian pada segi sosial bahasa, tetapi segi individual juga tidak dilupakan. Ini berarti meskipun bahasa menjadi milik masyarakat, merupakan tingkah laku masyarakat, tentu ada subkelompokatau kelompok-kelompok kecil atau masyarakat kecil dalam masyarakat besar yang memiliki tingkah laku kebahasaan yang menunjukkan ciri tersendiri, yang berbeda dari tingkah laku masyarakat besar itu. Pada hakikatnya bahasa adalah alat komunikasi. Ini menunjukkan fungsi sosial bahasa. Fungsi sosial lain bahasa terlihat pada rumusan yang menganggap bahasa sebagai identitas penutur, baik secara individual maupun secara kelompok

2.2  PERBEDAAN BAHASA DENGAN DIALEK
Dialek adalah bahasa sekelompok masyarakat yang tinggal disuatu daerah tertentu. Perbedaan dialek di dalam sebuah bahasa maka ditentukan oleh letak geografis atau region kelompok pemakainya. Batas-batas alam seperti sungai, gunung, laut, hutan, yang membatasi dialek yang satu dengan dialek yang lain.
 Dengan kata lain ciri penting suatu dialek ialah adanya kesalingmengertian (mutual intelligible). Misalnya sebuah bahasa A mempunyai dialek A1 dan A2. Untuk dapat dikatakan dialek, pemakai A1 harus mengerti jika pemakai A2 menggunakan A2, begitu sebaliknya. Jika anda dari Tabanan (Bali) model singaraja, sementara anda dan teman anda saling mengerti dan memahami, bisa dikatakan, “bahasa” yang dipakai “dialek” dari bahasa Bali.

2.3  DIALEK SOSIAL
Sosiologi telah lama mencatat kelompok-kelompok masyarakat itu tidak hanya bisa dibedakan berdasarkan tempat tinggal, melainkan juga atas dasar kondisi sosialnya. Semua kelompok sosial itu mempunyai potensi untuk mempuyai “bahasa” dengan ciri-ciri tertentu yang membedakan dari kelompok lain. Jika potensi itu benar-benar menjadi kenyataan, “bahasa” kelompok itu menjadi “dialek” sosial atau sosial dialect disingkat menjadi sosiolect, didindonesiakan menjadi sosiolek, atau sekurang-kurangnya setiap kelompok mempunyai “variasi” bahasa sendiri.

2.4  RAGAM BAKU
Istilah baku (standar) mengacu kepada tolak ukur yang berlaku untuk kuantitas dan kualitas dan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Dalam hal bahasa, ragam baku mengacu kepada ragam bahasa bermutu, yang oleh pemakainya dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan ragam-ragam yang lain yang ada dalam bahasa itu.
Ragam baku secara linguistik atau secara kebahasaan adalah dialek juga, baik dialek regional ataupun dialek sosial. Ragam itu menjadi baku karena prestise sosial (social prestige) tertentu. Secara linguistik, semua bahasa atau semua dialek adalah sama: sama-sama terdiri dari bunyi-bunyi yang bersistem, yang dihasilkan oleh organ-organ tutur (organ of speech). Kemudian, karena faktor sosial yang ada di luar bahasa itu, dialek itu menjadi ragam baku.
Faktor penentu ragam baku pada BI saat ini adalah dipakainya ragam atau variasi bahasa dikalangan terdidik atau ilmuwan. Golongan ilmuwan biasanya menggunakan ragam baku dengan cermat. Di samping itu golongan ini dianggap oleh masyarakat kebanyakan sebagai golongan yang terdiri dari orang-orang yang berpengetahuan, tahu mana yang tidak baik, lebih dari orang kebanyakan.


2.4.1        Variasi dalam Ragam baku
Ragam baku dapat kita bedakan antara baku lisan (RBL) dan baku tulis (RBT). Dapat dipahami, RBT lebih mudah diidentifikasi karena relatif lebih stabil dari pada RBL. RBL lebih kurang stabil karena lafal itu seolah “berayun”, sehingga kita sukar menentukan “titik” yang pasti. Ini juga menyarankan, ada variasi lain dalam RBL. Berikut ini akan diberikan beberapa contoh.
Kata-kata logika, logis, sosiologi adalah baku dalam RBT. Dalam lafal RBL yang tampak baku adalah [lokhika], [lokhis], [sosiolokhi], sedangkan lafal [logika], [logis], [sosiologi] dianggap kurang baku. Dalam RBT kata bank adalah baku, sementara dalam RBL yang baku adalah lafal bang.

2.4.2        Ragam Baku dan Ragam Umum
Masyarakat umum yang awan terhadap seluk beluk bahasa jelas tidak tahu banyak tentang bahasa atau ragam baku, tidak tahu banyak tentang ragam baku. Apalagi kalau menyangkut RBT, sementara banyak anggota masyarakat yang tidak banyak membaca bahkan banyak yang buta huruf. Mereka seolah berjalan sendiri menurut iramanya sendiri.
Kaidah mereka berbeda dengan kaidah yang ditentukan oleh yang mempunyai wewenang (otoritas) untuk menentukan mana  bentuk yang baku dan mana yang tidak baku. Semua ini menyebabkan yang sudah umum dan bisa dipakai oleh masyarakat luas dapat tidak dianggap baku oleh yang mempunyai otoritas, sebaliknya yang ditentukan baku jarang digunakan oleh masyarakat. Misalnya bentuk-bentuk yang dibakukan ialah sistem dan analisis, tetapi yang umum dipakai ialah sistem dan analisa.

2.4.3        Ragam Baku dan Nonbaku
Ragam baku mempunyai ketentuan sendiri dalam hal lafal, meskipun sudah kita ketahui, lafal belum secara tuntas diatur. Dalam bahasa Inggris ada kamus yang didasarkan atas lafal yang baku. Kita di Indonesia mempunyai Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memuat kata-kata baku, tetapi dalam hal lafal, hanya penggunan e sajalah yang dipastikan,dan itu pun hanya terbatas pada kata-kata yang penulisannya serupa, misalnya teras dan teras. Ucapan akan adalah baku sedangkan aken tidak.




2.4.4        Ciri-ciri ragam baku
a.       Ragam baku berasal dari dialek. Itu berarti, jumlah penutur asli (native speaker) bahasa baku lebih sedikit dibandingkan dengan keselurhan penutur bahasa.
b.      Ragam baku merupakan ragam yang biasanya diajarkankepada orang lain yang bukan penutur asli bahasa tersebut.
c.       Ragam baku mampu memberi jaminan kepada pemakainya bahwa ujaran yang dipakai kelak dapat dipahami oleh masyarakat luas, lebih luas dari pada jika dia memakai dialek regional.
d.      Sepanjang ragam baku disangkutkan atau menyangkut ragam baku dalam bahasa nasional atau bahasa resmi, ragam itu mempunyai ciri, biasanya ragam itu dipakai oleh kalangan terpelajar, kalangan cendikiawan dan ilmuwan, paling tidak dalam karya tulis ilmiah.
e.       Ragam baku mempunyai bentuk-bentuk kebahasaan tertentu yeng membedakannya dengan ragam-ragam lisan.

2.5  DIGLOSIA dan RAGAM BAKU
Di dalam sebuah bahasa itu hanya ada sebuah ragam baku, ditemukan ada situasi yang unik dalam bebarapa bahasa, yaitu dalam sebuah bahasa ditemukan ada dua ragam baku yang sama-sama diakui dan dihormati. Hanya saja fungsi dan pemakaiannya berbeda. Situasi yang demikian itu disebut diglosia. Istilah ini pertama kali dimunculkan oleh Marcais (fasold, 1984) dan menjadi terkenal karena dipakai oleh Ferguson (1959) ketika ia berbicara tentang bahasa arab. Dia melihat adanya ragam bahasa Arab dalam Al-Qur’an yang berbeda bentuk dan fungsinya dengan ragam sehari-hari yang dipakai dalam percakapan. Jadi diglosia (menurut Ferguson) adalah sejenis pembakuan bahasa yang khusus di mana   dua ragam bahasa berbeda berdampingan di dalam kseluruhan masyarakat bahasa, dan di mana masing-masing ragam bahasa itu diberi fungsi sosial tertentu.
Ciri situasi diglosia yang paling penting adalah pengkhususan fungsi masing-masing ragam bahasa. Ragam bahasa tinggi khusus digunakan dalam khutbah, surat-surat resmi pidato-pidato politik, kuliah siaran berita, tajuk rencana dalam surat kabar dan pada penulisan puisi bermutu tinggi.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah
1.      Bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat, berupa lambang bunyi atau suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
2.      Dialek adalah bahasa sekelompok masyarakat yang tinggal disuatu daerah tertentu.
3.      Ciri-ciri ragam baku
a.       Ragam baku berasal dari dialek. Itu berarti, jumlah penutur asli (native speaker) bahasa baku lebih sedikit dibandingkan dengan keselurhan penutur bahasa.
b.      Ragam baku merupakan ragam yang biasanya diajarkankepada orang lain yang bukan penutur asli bahasa tersebut.
c.       Ragam baku mampu memberi jaminan kepada pemakainya bahwa ujaran yang dipakai kelak dapat dipahami oleh masyarakat luas, lebih luas dari pada jika dia memakai dialek regional.
d.      Sepanjang ragam baku disangkutkan atau menyangkut ragam baku dalam bahasa nasional atau bahasa resmi, ragam itu mempunyai ciri, biasanya ragam itu dipakai oleh kalangan terpelajar, kalangan cendikiawan dan ilmuwan, paling tidak dalam karya tulis ilmiah.
e.       Ragam baku mempunyai bentuk-bentuk kebahasaan tertentu yeng membedakannya dengan ragam-ragam lisan.
3.2  SARAN
Seperti yang telah diuraikan diatas bahasa dan ragam bahasa merupakan salah satu materi yang sangat penting dan hendaknya kita sebagai mahasiswa dapat mempelajari materi ini dengan baik agar Bahasa Indonesia itu dapat digunakan dengan baik sebagai alat untuk berkomunikasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar